Collaborative leadership.
Finland alias negara finlandia memang sangat terkenal dengan sistem pendidikannya. Bagaimana tidak, berdasar nilai PISA (the program for international students assessment, Lomba science,math, reading, tingkat SMP unt semua negara negara UNI EROPA, dll) dan TIMSS semacam Lomba internasional di bidang Mathematika dan science seDUNIAn negara ini termasuk 5 besar.
Walau beberapa kali Finlandia ga di nomor urut 1 di PISA dan TIMSS, tapi dunia tetap saja menyorot kehebatan sistem pendidikan di negara yang sangat dekat dengan kutub utara ini .
Mengapa? Karena sistem pendidikannya yang ga robotic. Yang tidak memperlakukan siswa seperti robot dan mesin penghafal. Tapi bisa membuat siswa nya menyukai sekolah. Santai, tapi berhasil.
Di tahun 1970, Finland mengalami krisis ekonomi yang luarbiasa. Sampe terjerat hutang luar negeri yang banyak, negara ini dalam carutmarut yang sangat parah.. makanya negara ini memang ga terkenal sama sekali dulunya.
Akhirnya, pemerintah menyadari bahwa untuk membenahi negeri nya, reformasi yang paling harus di fokus kan adalah bidang pendidikan, karena kalau pendidikannya bagus, maka sector ekonomi, politik, dll akan bagus juga.
Reformasi pendidikan di mulai. Dimana, para peneliti pendidikan dipake. Disuruh melakukan penelitian, apa yang harus dibenahi. Jadi, kurikulum baru di Finland itu dibuat berdasar kan penelitian, bukan kurikulum coba coba yang jika MENTERI pendidikan di ganti, maka kurikulum nya juga di ganti.
Mulai lah, institusi pendidikan dianjurkan untuk bebas sebebas bebasnya dari intervensi politik.
Kadis pendidikan, kepala sekolah, dipilih berdasar kan track record PRESTASI mengajar nya dan keilmuannya di bidang pendidikan.. Jadi, basically, kadis/kepala sekolah adalah yang paling bagus mengajar nya, yang paling paham mata pelajaran yang dipegang nya, yang paling baik budinya, yang paling santun bicaranya.
Bukan orang yang paling dekat dengan bupati atau gubernur, bukan pula orang yang paling banyak habis uang saat menjadi timses bupati atau gubernur terpilih.
ya, kadis /kepala sekolah di finlandia, semata mata diangkat karena kualitas mereka dalam mengajar, karena keilmuan mereka. Sehingga, ketika mereka memimpin, murni misinya untuk memajukan pendidikan, memajukan sekolah, memperbaiki MANUSIA, para generasi Finland,, bukan untuk mengembalikan modal yang habis saat kampanye dulu.
Di finlandia, tidak boleh ada kesenjangan kualitas pendidikan antara siswa yg di daerah pedesaan dengan yang di kota. Oleh karenanya, sistem collaborative leadership, harus diterapkan. Artinya, ada sekitar 4 kepala sekolah yang harus bekerja sama, memikirkan bagaimana ke empat sekolah ini sama majunya.
Mereka saling bahu membahu, membantu kepala sekolah yang lain, untuk meningkatkan kualitas siswa,guru, dan sistem di ke 4 sekolah itu . Para kepala sekolah ini, , memercahkan masalah sekolah secara bersama sama.
. Mengapa mereka mau bekerja sama?karena ke suksesan kepala sekolah di firlandia tidak di ukur dari bagusnya nilai sisswa siswa di sekolahnya saja, tapi kesuksesan mereka di ukur dari keberhasilan ke 4 sekolah tadi.
Kita bisa membayangkan, andaikan kepala SMA unggul A satu kelompok collaborative leadership dengan kepala SMA di kampung terpencil B, maka kepsek B ini ga kerja sendirian memecahkan kesulitan2 di sekolah terpencil nya. Tapi, akan ada kepsek A juga yang memberi masukan dan ikut membantu, misalnya dengan Meminjamkan komputer yang berlebih di sekolahnya. Atau, kalau di sekolah B tidak ada guru fisika, dg senang hati kepsek A meminjamkan guru fisika nya unt ngajar di sekolah B.
Demikianlah cara Finlandia menciptakan EQUALITY dalam pendidikan. Anak anak kampung pun, tetap beruntung, bisa mengenyam pendidikan yang hampir sama kualitas nya dengan anak anak kota.
Beda sekali dengan kita, pendidikan yang berkualitas tidak merata. Sekolah sekolah/PTN masih ada yang mengajarkan siswa siswa nya untuk bersaing dengan sekolah lain yang masih sama sama di ACEH. Di firlandia, yang ada hanya lah COLLABORATIVE tidak boleh ada kompetitif antar sekolah.
Semoga, kita di Aceh, pendidikan ini jangan lagi dijadikan tempat membentuk karakter siswa yg KOMPETITIF, tapi kooperatif, merata ke semua desa. Olehkarena itu, kadis pendidikan,kepsek, yang berkualitas adalah kebutuhan MENDESAK unt membenahi negeri ini.
.
Ini lah salah satu cara untuk menyelesaikan Carutmarut negeri ini. Carut Marut PLN, Carutmarut tatanan kota, Carutmarut ekonomi, air bersih, carut marut jalan aspal yang gelap dan banyak lubang, yaitu Dengan cara merapikan sistem pendidikan kita, meratakan KUALITASNYA.
Wahai pemimpin negeri, tolong jangan ada lagi intervensi politik dalam dunia pendidikan.
kadis kelautan, kadis keuangan, dan kadis kadis lain, silakan saja dipilih karena banyaknya modal mereka yang habis untuk membantu BAPAK saat kampanye dulu,
tapi please, untuk KADIS pendidikan , para rektor PTN, kepala sekolah, para guru dan dosen, jangan sampai ada unsur POLITIK juga disana. Mereka semestinya dipilih oleh para pakar pendidikan saja, yang paham KREDIBILITAS mereka. harapan kami ada pada sector pendidikan, untuk membangun aceh yang "baldatun tayiibatun wa Rabbun ghafur"
No comments:
Post a Comment