Wednesday, 7 December 2016

Ketika Malaikat Jibril dan Mikail Menangis

Ketika Malaikat Jibril dan Mikail Menangis

IMAM Al-Ghazali menyebutkan dalam bukunya bahawa nama iblis yang sebenarnya adalah al-Abid (ahli ibadah) pada langit yang pertama, pada langit yang keduanya disebut az-Zahid. Pada langit ketiga, namanya disebut al-Arif. Pada langit keempat, namanya adalah al- Wali. Pada langit kelima, namanya disebut at-Taqi. Pada langit keenam namanya disebut al-Kazin. Pada langit ketujuh namanya disebut Azazil manakala dalam Luh Mahfudz, namanya ialah iblis.

Iblis telah sombong dengan apa yang dimilikinya. Kesombongan Iblis dibuktika dengan keengganannya untuk sujud pada Adam atas perintah Allah. Iblis berkata, “Adakah Engkau mengutamakannya daripada aku, sedangkan aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api dan Adam dari tanah.”

Lalu Allah S.W.T berfirman yang maksudnya, “Aku membuat apa yang aku kehendaki.”

Iblis tetap dengan kesombongannya enggan sujud pada Adam. Karena ia merasa bahwa dirinyalah yang paling baik.

Ketika para malaikat mengangkat kepala mereka, mereka mendapati Iblis tidak sujud sedang mereka telah selesai sujud. Maka para malaikat bersujud lagi bagi kali kedua karana bersyukur, tetapi iblis tetap angkuh dan enggan
sujud. Dia berdiri dan memaling dari para malaikat yang sedang bersujud. Dia tidak ingin mengikut mereka dan tidak pula dia merasa menyesal atas keengganannya.

Kemudian Allah S.W.T merubahkan mukanya pada asalnya yang sangat indah cemerlangan kepada bentuk seperti babi hutan. Allah S.W.T membentukkan kepalanya seperti kepala unta, dadanya seperti daging yang menonjol di atas punggung, wajah yang ada di antara dada dan kepala itu seperti wajah kera, kedua matanya terbelah pada sepanjang permukaan wajahnya. Lubang hidungnya terbuka seperti cerek tukang bekam, kedua bibirnya seperti bibir lembu, taringnya keluar seperti taring babi hutan dan janggut terdapat sebanyak tujuh helai.

Setelah itu, lalu Allah mengusirnya dari syurga, bahkan dari langit, dari bumi dan ke beberapa jazirah. Dia tidak akan masuk ke bumi melainkan dengan cara sembunyi. Allah S.W.T melaknatinya sehingga ke hari kiamat karana dia
menjadi kafir. Walaupun iblis itu pada sebelumnya sangat indah cemerlang rupanya, mempunyai sayap, banyak ilmu, banyak ibadah serta menjadi kebanggan para malaikat dan pemukanya, dan dia juga pemimpin para
malaikat karubiyin dan banyak lagi, tetapi semua itu tidak menjadi jaminan sama sekali baginya.

Ketika Allah S.W.T membalas tipu daya Iblis, maka menangislah Jibril A.S dan Mikail. Lalu Allah S.W.T berfirman yang bermaksud, “Apakah yang membuat kamu menangis?” Lalu mereka menjawab, “Ya Allah! Kami tidak aman dari murka-Mu, maka lindungilah kami.”

Setelah diusir, maka iblis pun berkata, “Ya Tuhanku, Engkau telah mengusir aku dari Syurga disebabkan Adam, dan aku tidak menguasainya melainkan dengan penguasaan-Mu.”

Lalu Allah berfirman yang bermaksud, “Engkau dikuasakan atas dia, yakni atas anak cucunya, sebab para nabi adalah maksum.”

Berkata lagi iblis, “Tambahkanlah lagi untukku.” Allah berfirman yang maksudnya, “Tidak akan dilahirkan seorang anak baginya kecuali tentu dilahirkan untukmu dua padanya.”

Berkata iblis lagi, “Tambahkanlah lagi untukku.” Lalu Allah berfirman dengan maksud, “Dada-dada mereka adalah rumahmu, engkau berjalan di sana sejalan dengan peredaran darah.”[]

Saturday, 3 December 2016

UPDATE AKSI BELA ISLAM 212 SEMERBAK HARUM SAAT HUJAN TURUN JAMAAH SHOLAT JUM'AT MONAS


kesaksian Arik S. Wartono

Aku datang longmarch bersama tak kurang 3000 (tiga ribu) jamaah dari kawasan Harmony, memasuki kawasan Monas melalui arah barat patung kuda bundaran HI. Mendapat info bahwa Monas sudah penuh. Tapi aku butuh membuat liputan kebenarannya.
Maka aku memotret dan membuat video di bundaran HI sebentar, kemudian menerobos masuk mendekati panggung utama orasi di Monas, yang sekaligus lolasi panggung imam jamaah sholat jumat.
Langkahku terhenti sekitar 25 meter dari panggung orasi, sebab lautan umat sudah mustahil aku belah lagi untuk lebih dekat.
Dari titik itulah aku membuat liputan kesaksianku, sambil menggelar sajadah.
Selama tak kurang tiga jam berdiam di titik Barat Monas tepat kiri imam yang sekaligus lokasi panggung utama orasi, cuaca tak sedetikpun panas.
Matahari muncul sedikit tanpa membakar terik, selebihnya mendung.
Drone terus beterbangan di atasku, hellykopter mengelilingi Monas dalam hawa sejuk angin semilir.
Saat aku memejamkan mata sambil bersila di atas sajadahku sambil mendengarkan orasi Aa Gym, aku bahkan merasa sauasananya seperti sedang di pinggir pantai, adem-semilir. Padahal kabarnya ini aksi demonstrasi.
Setelah orasi beberapa tokoh, tiba saatnya Muadzin mengumandangkan adzan sebagai tanda dimulainya ibadah Jumat yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim lelaki akil balikh.
Saat itulah hujan mulai turun, seolah Allah sengaja mengirim air wudhu untuk kami semua 7,4 juta jamaah.
Untuk orang sebanyak itu, coba pikir berapa ton kubik air yang dibutuhkan untuk berwudhu sekalipun dalam situasi paling darurat?
Allah memahami kebutuhan kami, maka diturunkannya hujan yang tidak deras untuk kami berwudhu.
MasyaAllah, jamaah pun diliputi rasa syukur dan haru.
Sekitar 5 menit hujan turun, indra penciumanku mengindera bau semerbak harum.
Aku berpikir sejenak, bau parfum siapakah ini yang sanggup semerbak dalam guyuran hujan?
Bukankah kami berkumpul 7,4 juta orang? Mestinya kan pengab bau keringat di bawah hujan? Normalnya kan bau apag (tak sedap) pakaian kotor berkeringat yang terbasahi air?
Tapi ini malah bau harum semerbak.
Aku coba berpikir lain: apakah ada yang sedang membakar dupa?
Ah mana mungkin ada dupa di bawah guyuran hujan? Lagipula ini bukan bau dupa, dan mana mungkin ada jamaah sholat jumat yang membakar dupa?
Aku coba berpikir lain, dan harum semakin semerbak, lebih dari 5 menit sudah harum ini.
Apakah ada sesorang yang menyemprotkan parfum mahal dalam jumlah besar ?
Aku lihat sekeliling, nihil. Di sisi kiri belakangku sekitar 50 meter memang ada mobil tangki, tapi jelas bertuliskan Air Minum (untuk Wudhu).
Harum semerbak bahkan kian jelas. Maka aku coba bertanya pada orang-orang di sekelilingku dengan suara lumayan keras, sebab memang belum Adzan kedua sebagai tanda dimulainya khutbah Jumat :
"Bapak-bapak dan Abang di sini semua apakah mencium bau harum yang kuat?"
semua menjawab
"Ya, benar. Bau harum, wangi."
Aku lihat tadi ada seorang bapak usia 50an yang batuk saat hujan mulai turun. Mungkin bapak ini sedang pilek. Aku langsung tanya:
"Apakah bapak juga mencium bau harum?"
beliau tegas menjawab: "Ya, benar bau harum !"
Aku bertanya sekali lagi dengan suara lebih keras pada semua jamaah di sekelilingku:
"Apakah semua yang di sini mencium bau harum yang kuat?"
Semua serempak menjawab
"Ya", sambil mengangguk. Sampai aku mengulagi 3x pertanyaanku pada jamaah, jawabnya pun sama: YA.
Aku melanjutkan pertanyaan:
"Parfum apakah yang bisa berbau harum di tengah guyuran hujan begini?"
Kebetulan saat itu hujan mulai sedikit deras, bersamaan dengan pertanyaanku.
Tidak ada jawaban.
Akun lanjutkan:
"Adakah di sekitar sini tanaman yang sedang berbunga, yang bapak dan abang semua kenali dengan bau harum begini?"
Semua mengeleng, kembali tak ada jawaban.
Aku lanjutkan lagi:
"Lalu bau harum apa ini, yang kita semua bisa merasakannya dalam guyuran hujan begini?"
Kali ini pertaanku melemah,
Aku melanjutkan pertanyaan:
"Parfum apakah yang bisa berbau harum di tengah guyuran hujan begini?"
Kebetulan saat itu hujan mulai sedikit deras, bersamaan dengan pertanyaanku.
Tidak ada jawaban.
Akun lanjutkan:
"Adakah di sekitar sini tanaman yang sedang berbunga, yang bapak dan abang semua kenali dengan bau harum begini?"
Semua mengeleng, kembali tak ada jawaban.
Aku lanjutkan lagi:
"Lalu bau harum apa ini, yang kita semua bisa merasakannya dalam guyuran hujan begini?"
Kali ini pertaanku melemah, bahkan sedikit tersekat.
Dan beberpa jamaah aku lihat mulai berubah raut mukanya, mereka mulai berlinang air mata.
Tiba-tiba saja kami para lelaki telah menangis di bawah hujan.
"MasyaAllah... Subhanallah.. apakah Kau sedang mengutus malaikatmu untuk kami ya Allah, dengan hujan ini?"
Seorang bapak berwajah keturunan Arab (tampaknya seorang ustsdz, atau mungkin habib) spontan hampir berteriak sambi menangis.
Kami semua pun kian berlinang, tak kurang 100 orang saat itu di dekatku yang memberi kesaksian tentang fenomena alam yang tak biasa ini.
Muadzin pun mengumandangkan adzan kedua, Habib Rieziq mulai berkhutbah sebagai khatib sholat Jumat, dan bau harum tak tercium lagi, hujan terus merintik.
Kami tetap khitmad menyimak khutbah Jum'at yang menggetarkan.
Dan aku menjadi saksi di antara 7,4 juta jamaah.
Itu jamaah sholat jumat terbesar yang pernah aku ikuti seumur hidup, di bawah guyuran hujan.
Allahuakbar.
(Jakarta, 2 Desember 2016)